Tipe-tipe Morfofonemik

Proses morfologi yang terjadi pada satu morfem dengan morfem lain akan menghasilkan sebuah kata. Pada proses pembentukan kata ada beberapa model perubahan fonem.
Dalam lingkup proses morfofonemik model perubahan itu antara lain. :

1. Pesenyawaan fonem merujuk kepada proses
     meluluhnya sebuah fonem yang disenyawakan dengan fonem  lain.

Contohnya dalam pengimbuhan :

{pe-an} + {suling} {penyulingan}
{pe-}
+ {suling} {penyuling}
{me-}
+ {kontrol} {mengontrol}
{pe-}
+ {tanak} {penanak}

Contoh penggunaan kata hasil persenyawaan fonem dalam
kalimat:

1) Sebuah inovasi yang menjungkirbalikkan proses kerja penyulingan nilam yang rendemannya cuma berkisar antara 1,5-2%.

2) Petani dan penyuling nilam langsung frustasi karena rugi.

3) Ia hanya menambahkan sensor otomatis di boiler untuk mengontrol suhu dan tekanan.

4) Bahan baku dan air dibatasi oleh lempeng besi nirkarat mirip alat penanak nasi.

Pada contoh proses peluluhan fonem sebagaimana tertera di atas dalam proses pengimbuhan prefiks {pe-}; {pe-an}; {me} pada morfem dasar {suling}; akan memunculkan bunyi nasal [ ñ ], sedangkan pada morfem dasar {kontrol}; akan  memunculkan bunyi sengau [ ŋ ]; di pihak lain pada morfem
dasar {tanak}akan memunculkan bunyi nasal [ n ].

2. Penambahan fonem mengacu kepada hadirnya fonem atau bunyi dalam proses morfologi yang pada awalnya fonem itu tidak ada.
Contoh:

{pe-} + {pres} {pengepresan}
{me-kan}
+ {proyeksi} {memproyeksikan}
{me-} + {fermentasi} {memfermentasi}
{me-}
+ {blender} {memblender}
{me-}
+ {destilasi} {mendestilasi}

Contoh penggunaan kata hasil penambahan fonem dalam kalimat:
1) Biomassa yang tersisa diangkat dari wadah dan dipres. Larutan pengepresan dimasukkan ke cairan fermentasi.

2) Dewan Asri memproyeksikan harga nilam idealnya Rp.500.000/kg.

3) Orang itu memfermentasi irisan daun nilam dengan bantuan air dan dua jenis kapang.

4) Herdi tak memblender daun nilam, tetapi mengiris-iris saja.

5) Sekali mendestilasi 400 kg bahan, Rudi memanen 13 kg minyak nilam.

Pada contoh proses penambahan fonem sebagaimana tertera di atas dalam proses pengimbuhan prefiks {me-} pada morfem dasar {pres}; akan memunculkan bunyi nasal [ŋ] , sedangkan pada morfem dasar {proyeksi}; {fermentas};  {blender} dan {destilasi}akan memunculkan bunyi nasal [m].

3. Pelesapan fonem mengacu kepada melesap atau menghilangnya suatu fonem atau bunyi dalam proses morfologi  yang pada awalnya fonem itu ada menjadi tidak ada.

Misalnya:
{vulkanolog} + {-wan} {vulkanolowan}
{sejarah}
+ {-wan} {sejarawan}
{kakak}
+ {-nda} {kakanda}
{ter-}
+ {rangsang} {terangsang}
{per-an}
+ {rawat} {perawatan}
{ber-}
+ {rambut} {mendestilasi}
{ter-}
+ {realisasi} {terealisasi}

Contoh penggunaan kata hasil perlesapan fonem dalam kalimat:

1) Vulkanolowan asal Indonesia itu berjalan kaki untuk mencapai puncak-puncak tertinggi dan tepian kaldera untuk mempelajari tipe-tipe gunung berapi.
2) Kakanda akan berangkat ke Surabaya besok pagi,
  3) Agar akar terangsang untuk tumbuh, umumnya pekebun menggunakan zat perangsang tumbuh atau  (ZPT) yang mengandung hormone auksin.
4) Pemenggalan akar dan perawatan intensif jabon tumbuh lebih cepat dan waktu panenpun singkat.

5) Rizosfer yang sudah berambut akar mengundang  mikrob menguntungkan tanaman itu.

6) Gagasan itu akhirnya terealisasi pada pertengahan  tahun 2014.

4. Perubahan fonem mengacu kepada sebuah fonem berubah akibat proses morfologi. Perubahan terjadi karena bertemunya dua morfem dasar yang berbeda bunyi, bersatu  kemudian berubah menjadi sebuah bunyi lain yang lain dari keduanya .

 Misalnya:

{be-} + {ajar} {belajar}
{ter}
+ {anjur} {terlanjur}
{me-}
+ {asam} {masam}
{di-}
+ {claim} {diklem}

Keterangan:
Pembentukan kata belajar dari morfem {be-} + {ajar} demikian pula pada morfem {ter-} + {anjur} menjadi terlanjur merupakan satu ciri khas yang pembentukan sangat jarang terjadi pada model kata yang lain dalam bahasa Indonesia.

Terakhir diperbaharui: Tuesday, 21 June 2022, 14:38