Proses Pengulangan


3.   Proses Pengulangan

Menurut Ramlan (1980:63) proses pengulangan atau reduplikasi ialah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, Baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan ini disitu disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Misalnya kata ulang rumah-rumah dari bentuk dasar rumah, kata ulang perumahan-perumahan dari bentuk dasar perumahan, kata ulang bolak-balik daribentuk dasar balik.

Setiap kata ulang sudah tentu memiliki bentuk dasar. Kata dalam bahasa Indonesia, misalnya: sia-sia, alun-alun, mondar-mandir, Dalam tinjauan deskriptif tidak dapat digolongkan kata ulang karena tidak ada satuan yang diulang. Dari deretan morfologi dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut. Berbeda dengan temu, sekalipun satuan ini tidak bertemu dalam bentuk temu saja, namun dari deretan morfologi dapat dipastikan bahwa satuan itu ada. Deretan Morfologisnya adalah : pertemuan, penemuan, bertemu, ketemu, ditemukan, menemukan, mempertemukan, dipertemukan.

Setiap kata ulang memiliki satuan yang diulang, satuan yang diulang itu disebut bentuk dasar. Sebagian kata ulang dapat lebih mudah ditentukan bentuk dasarnya, misalnya : rumah-rumah bentuk dasarnya rumahsakit-sakit bentuk dasarnya sakit, dua-dua bentuk dasarnya dua.

Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, pengulangan dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu (1) pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Misalnya : sepeda menjadi sepeda-sepeda, buku menjadi buku-buku, (2) pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Bentuk dasarnya tidak diulang seluruhnya. Misalnya: mengambil menjadi mengambil-ambilmembaca menjadi membaca-baca, (3) perulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks merupakan perulangan yang terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung suatu fungsi, misalnya : kereta-keretaan yang bentuk dasarnya adalah kereta dan bukan keretaan, dan (4) pengulangan dengan perubahan fonem merupakan kata ulang yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem. Misalnya : gerak menjadi gerak-gerikserba menjadi serba-serbi.

Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangaan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan perubahan bunyi ataupun tidak. Satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Kata-kata seperti cumi-cumi, bala-bala, mondar-mandir tidak termasuk kata ulang karena dari deretan Morfologis tidak terdapat satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut.

a.    Macam-macam Kata Ulang

Dalam bahasa Indonesia, berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya kata ulang dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu:

1) Pengulangan seluruh bentuk dasar

Pengulangan seluruh bentuk dasar adalah pengulangan tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks.

Contoh:

rumah → rumah-rumah

kecantikan → kecantikan-kecantikan

pengeboman → pengeboman-pengeboman

pengertian → pengertian-pengertian

2) Pengulangan berimbuhan

Macam pengulangan ini bentuk dasarnya diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks.

Contoh:

biji → biji-bijian

batu → batu-batuan

barat → kebarat-baratan

cantik → secantik-cantiknya

3) Pengulangan sebagian

Pengulangan sebagian atau kata ulang dwipurwa adalah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Hampir semua bentuk dasar pengulangan macam ini berupa bentuk kompleks. Yang berupa bentuk tunggal sangat terbatas, seperti leluhur yang dibentuk dari bentuk dasar luhurlelaki dibentuk dari bentuk dasar laki, sesaji dibentuk dari bentuk dasar saji. Pengulangan sebagian yang dibentuk dari bentuk dasar yang berupa bentuk kompleks.

Contoh:

melihat → melihat-lihat

menjalankan → menjalan-jalankan

dikejar → dikejar-kejar

dilemparkan → dilempar-lemparkan

berkata → berkata-kata

berkejaran → berkejar-kejaran

tersenyum → tersenyum-senyum

mainan → main-mainan

tumbuhan → tumbuh-tumbuhan

4) Pengulangan dengan perubahan fonem

Kata ulang macam ini termasuk sedikit. Perubahan fonem ada yang terjadi pada vokal atau pada bunyi konsonan.

Contoh:

balik → bolak-balik

gerak → gerak-gerik

serba → serba-serbi

lauk → lauk-pauk

ramah → ramah-tamah

sayur → sayur-mayur

b.    Fungsi Proses Pengulangan

Fungsi proses pengulangan adalah sebagai berikut.

1) Fungsi sebagai pembentuk kata nominal dari kata kerja, misalnya tulis-menulis, jilid-menjilid, cetak-mencetak, dan sebagainya.

2) Fungsi sebagai pembentuk kata keterangan dari kata sifat, misalnya sepandai-pandainya, serendah-rendahnya, setinggi-tingginya, dan sebagainya. Pada proses pengulangan seperti bintang-bintang, pandang-memandang, memukul-mukul, kuda-kudaan, dan sebagainya, tidak mengubah golongan kata.

c.    Makna proses pengulangan, yaitu:

1) Menyatakan makna banyak.

     Contoh:

bintang-bintang : banyak bintang

rumah-rumah : banyak rumah

mobil-mobil : banyak mobil

Makna banyak tidak selalu dinyatakan dengan proses pengulangan, misalnya beberapa rumah, bukan beberapa rumah-rumah*, banyak orang, bukan banyak orang-orang*, dan sebagainya. Selain dari contoh di atas, yaitu makna banyak yang berhubungan dengan bentuk dasar, ada lagi makna banyak yang berhubungan dengan kata yang diterangkan oleh proses pengulangan pada bentuk dasar, misalnya rumah itu besar-besar, pohon itu rindang-rindang, dan sebagainya.

2) Menyatakan makna tak bersyarat, yaitu makna yang sama dengan meskipun.

     Contoh:

Kotor-kotor dipakai : meskipun kotor dipakai

Duri-duri diterjang : meskipun duri diterjang

.

3) Menyatakan makna yang menyerupai yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

mobil-mobilan : yang menyerupai mobil

rumah-rumahan : yang menyerupai rumah

kekanak-kanakan : menyerupai anak

4) Menyatakan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasat dilakukan berkali-kali.

     Contoh:

meninju-ninju : meninju berkali-kali

menjatuh-jatuhkan : menjatuhkan berkali-kali

5) Menyatakan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan dengan enak, santai, atau dengan senang.

     Contoh:

berjalan-jalan : berjalan dengan santai

duduk-duduk : duduk dengan santai

6) Menyatakan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan oleh dua pihak, atau saling.

     Contoh:

kunjung-mengunjungi : saling mengunjugi

tembak-menembak : saling menembak

berdesak-desakan : saling mendesak

7) Menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

baca-membaca : hala-hal yang berhubungan dengan membaca

jahit-menjahit : hal-hal yang berhubungan dengan mejahit

8) Menyatakan makna agak.

     Contohnya:

kecoklat-coklatan : agak coklat

kekuning-kuningan : agak kuning

9) Menyatakan tingkat yang paling tinggi yang dapat dicapai.

     Contoh:

sebaik-baiknya : tingkat baik yang paling tinggi yang dapat dicapai

serajin-rajinnya : tingkat rajin yang paling tinggi yang dapat dicapai

.

4.    Proses Pemajemukan

Kata majemuk adalah gabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Kata majemuk adalah kata yang terdiri dari dua kata sebagai unsurnya. Kata majemuk berbeda dengan gabungan-gabungan kata lainnya, misalnya frase dan klausa yang masing-masing unsur-unsurnya memiliki makna sendiri-sendiri. Ramlan (1980:76) Gabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Misalnya: rumah sakitmeja makan, kepala batu, keras hati, dan sebagainya. Kata yang terdiri dari gabungan dua kata sebagai unsurnya merupakan kata majemuk. Di samping itu ada juga kata majemuk yang terdiri dari satu kata dan satu pokok kata sebagai unsurnya. Misalnya: daya tahan, kamar kerja, ruang baca, kolam renang, lempar lembing, dan sebagainya.

Kata-kata majemuk yang terdiri dari unsur berupa kata dan pokok kata. Unsur yang berupa pokok kata, misalnya : kolam renang, pasukan tempur, medan tempur, lomba lari, kamar kerja, jam kerja, masa kerja. Sedangkan unsur yang berupa kata ialah : kolam, pasukan, medan, lomba, kamar, jam, masa. Sedangkan kata majemuk yang terdiri dari pokok kata semua misalnya: terima kasih, lomba lari, loba tembak, lomba masak, lomba nyanyi, jual beli, tanggung jawab, tanya jawab, simpan pinjam, dan sebagainya.

a.    Ciri-ciri Kata Majemuk

Dari penjelasan di atas, untuk menentukan satuan mana yang merupakan kata majemuk dan satuan mana yang bukan kata majemuk dapat terlihat dari ciri-ciri kata majemuk berikut ini:

1) Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata

Satuan gramatik yang unsurnya berupa kata dan pokok kata, atau pokok kata semua merupakan kata majemuk karena pokok kata merupakan satuan gramatik tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa dan secara gramatik tidak memiliki sifat bebas sehingga gabungan dengan pokok kata tentu tidak dapat dipisahkan atau diubah strukturnya. Kata majemuk yang terdiri dari kata dan pokok kata, misalnya tenaga kerja unsur yang berupa kata adalah tenaga dan unsur yang berupa pokok kata adalah kerjamedan tempur unsur yang berupa kata adalah medan dan unsur yang berupa pokok kata adalah tempur, dan sebagainya. Kata majemuk yang semua unsurnya pokok kata misalnya simpan pinjamtanya jawab, tanggung jawab, dan sebagainya.

2) Kata majemuk unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan .

Satuan rumah sakit kelihatannya sama dengan orang sakit, keduanya terdiri dari kata benda dan kata sifat, tetapi bila kita teliti ternyata berbeda. Unsur-unsur dalam orang sakit dapat dipisahkan oleh kata itu, dan kata sakit dapat didahului dengan kata sedang, misalnya orang itu sakit, orang itu sedang sakit, dan sebagainya. Berbeda dengan unsur-unsur dalam rumah sakit yang tidak dapat dipisahkan di antara unsur-unsurnya, misalnya rumah itu sakit*; rumah itu sedang sakit*; dan sebagainya.

Satuan buah tangan berbeda dengan buah mangga meskipun unsurnya sama, adalah berupa kata nominal semua. Pada satuan buah mangga dapat diubah strukturnya, misalnya buah mangga itu besar-besar menjadi mangga itu buahnya besar-besar. Berbeda dengan buah tangan tidak dapat diubah strukturnya menjadi tangan itu buahnya besar-besar*. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa buah tangan merupakan kata majemuk sedangkan buah mangga tidak termasuk kata majemuk, melainkan termasuk frase. Kata majemuk yang sama dengan ciri-ciri ini misalnya pejabat tinggi, anak kunci, mata uang, bola keranjang, kamar makan, dan sebagainya.

b.   Kata Majemuk dengan Unsur Yang Berupa Morfem Unik.

Morfem unik adalah morfem yang hanya mampu berkombinasi dengan satu satuan tertentu. Misalnya morfem siur yang hanya bisa berkombinasi dengan morfem simpang. Kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa morfem unik, misalnya simpang siur, sunyi senyap, gelap gulita, terang benderang, yang morfem uniknya adalah siur, senyap, gulita, dan benderang.

Chaer (2008:209) komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar ( biasanya berupa akar maupun bentuk berimbuhan ) untuk mewadahi suatu konsep yang belum tertampung dalam sebuah kata. Komposisi dapat dibedakan lima macam yaitu sebagai berikut :

1) Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabungkan sederajat, sehingga bentuk komposisinya yang koordinatif.

     Contoh :

baca tulis,

makan minum,

kaya miskin,

ayam itik

.

2) Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabung tidak sederajat, sehingga melahirkan komposisi yang subordinatif.

     Contoh :

sate ayam,

sate lontong,

sate madura,

.

3) Komposisi yang menghasilkan istilah, yakni yang maknanya sudah pasti, sudah tentu, sekalipun bebas dari konteks kalimatnya sebagai istilah yang digunakan dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu.

     Contoh :

tolak peluru,

angkat besi,

terjun payung

.

4) Komposisi pembentuk idiom, yakni penggabungan dasar dengan dasar yang menghasilkan makna idiomatik, yaitu makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal.

     Contoh :

memeras keringat ’bekerja keras’,

membanting tulang’kerja keras’,

menjual gigi ’tertawa’

.

5) Komposisi yang menghasilkan nama, yakni yang mengacu pada sebuah wujut dalam dunia nyata.

     Contohnya :

stasiun gambir,

selat sunda,

 


Terakhir diperbaharui: Monday, 12 April 2021, 11:14