10.2 Model Analisis Semiotik Charles Sanders Peirce
a. Lambang
Lambang adalah suatu tanda dimana hubungan antara tanda dan acuannya merupakan hubungan yang sudah terbentuk secara konvensional. Lambang ini adalah tanda yang dibentuk karena adanya consensus dari para pengguna tanda. Warna merah bagi masyarakat Indonesia adalah lambang berani, mungkin di Amerika bukan.
b. Ikon
Ikon adalah suatu tanda dimana hubungan antara tanda dan acuannya berupa hubungan berupa kemiripan. Jadi, ikon adalah bentuk tanda yang dalam berbagai bentuk menyerupai objek dari tanda tersebut. Patung kuda adalah ikon dari seekor kuda.
c. Indeks
Indeks adalah suatu tanda dimana hubungan antara tanda dan acuannya timbul karena ada kedekatan eksistensi. Jadi indeks adalah suatu tanda yang mempunyai hubungan langsung (kausalitas) dengan objeknya. Asap merupakan indeks dari adanya api.
Semiotika berangkat dari tiga elemen utama, yang disebut Peirce teori segitiga makna atau triangle meaning.7
a. TandaTanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Acuan tanda ini disebut objek.
b. Acuan tanda (Objek)
Objek adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.
c. Pengguna tanda (Interpretant)
Interpretant adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.
Yang dikupas teori segitiga, maka adalah persoalan bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang pada waktu berkomunikasi. Hubungan antara tanda, objek, dan interpretant, digambarkan Peirce pada gambar 1.1.
Gambar 1
Hubungan Tanda, Objek dan Interpretant (Triangle of Meaning)

Sign
Interpretant Object
Dari gambar di atas dapat dijelaskan antara tanda, objek, dan pengguna tanda terdapat hubungan yang saling berkaitan.
B. Bahasa
Bahasa benar-benar sebuah fenomenon yang luar biasa. Tanpanya, kehidupan manusia seperti yang dikenal kini takkan dapat terwujud. Tulisan yang manusia terkandung bagai lautan tak berujung dalam buku-buku, yang mencatat pemikiran manusia sepanjang masa, dan yang dapat diakses jika mengetahui kode verbal yang tepat, adalah pencapaian yang sungguh mencengangkan. Jika, entah bagaimana caranya, semua buku yang ada dalam Perpustakaan di seluruh dunia dihancurkan dalam semalam, peradaban manusia akan harus kembali mulai menyandikan ualng pengetahuan secara lingustik, dengan menyatukan para penulis, ilmuwan, pendidik, pembuat hukum, dan seterusnya untuk secara harfiah “menulis ulang” pengetahuan.8
Secara universal, bahasa selalu dirasakan sebagai memiliki kapasitas yang lebih dari kapasitas lain, membedakan umat manusia dari semua spesies lain. Ada keyakinan mendalam jika dapat memecahkan teka-teki menganai asal-usul bahasa maka akan menggenggam petunjuk vital atas misteri kehidupan itu sendiri. Malah, Bibel di dunia Barat dimulai dengan “pada mulanya adalah kata”. Apakah bahasa merupakan berkah Ilahi atau pencapaian unik oleh benak manusia. Di zaman Yunani Kuno, istilah untuk ujaran logos mengacu bukan hanya sebagai pada wacana lisan,
tetapi juga kemampuan rasional pada benak manusia. Bagi orang Yunani, logoslah yang mengubah hewan manusia menjadi pemikir rasional.9
Dalam kegiatan komunikasi, kata-kata disatukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Yang paling penting dari rangkaian kata-kata tadi adalah pengertian yang tersirat dibalik kata yang digunakan itu. Setiap anggota masyarakat yang terlibat dalam kegiatan komunikasi, selalu berusaha agar orang-orang lain dapat memahaminya dan di samping itu ia harus bisa memahami orang lain. Dengan cara ini terjalinlah komunikasi dua arah yang baik dan harmonis.10
Masyarakat manusia kontemporer tidak akan berjalan tanpa komunikasi. Komunikasi, dalam hal ini dengan mempergunakan bahasa, adalah alat yang vital bagi masyarakat manusia. Mereka yang terlibat dalam jaringan komunikasi masyarakat kontemporer ini memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan itu antara lain harus menguasai sejumlah besar kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu pula menggerakkan kekayaannya itu menjadi jaringan-jaringan kalimat yang jelas dan efektif, sesuai dengan kaidah-kaidah sintaksis yang berlaku, untuk menyampaikan rangkaian pikiran dan perasaannya kepada anggota-anggota masyarakat lainnya.