6.7 Ambiguitas
Ambiguitas sering disebut dengan ketaksaan (ambiguity) (Alwi, 2002). Ambiguitas diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti, sedangkan kata sifat yang berkaitan dengannya disebut taksa (ambiguous). Suwandi pun menyatakan kebermaknagandaan dalam ambiguitas berasal dari frase atau kalimat yang terjadi sebagai akibat penafsiran sturktur gramatikal yang berbeda (Suwandi, 2008). Pendapat Alwi dan Suwandi dikuat oleh pernyataan Ullman mengatakan “Ambiguity isa linguistic condition which can arise in a vareity of ways (Pateda, 2010). Ambiguitas dapat mengakibatkan banyak sekali kemungkinan makna yang dapat diinterpretasikan, karena kalimat ambigu menyebabkan timbulnya kekaburan, ketidakjelasan dan keraguan pada kalimat tersebut.
Lalu, apa bedanya ambiguitas dengan polisemi?
Perbedaan antara polisemi dengan ambiguitas adalah jika kegandaan makna dalam polisemi berasal dari kata, sedangkan kegandaan makna dalam ambiguitas berasal dari satuan gramatikal yang lebih besar, yaitu frase atau kalimat, dan terjadi sebagai akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda (Suwandi, 2008). Dalam bahasa lisan penafsiran ganda ini jarang terjadi karena struktur gramatikal itu dibantu oleh unsur intonasi. Akan tetapi, di dalam bahasa tulis penafsiran ganda ini dapat terjadi jika penanda-penanda ejaan tidak lengkap diberikan.
1) Anak istri pak kepala desa sangat baik
Kalimat tersebut merupakan contoh ambiguitas karena kontruksi teks tersebut terdapat lebih dari satu tafsiran , apakah anak dan istri kepala desa yang baik? Apakah anak, istri, dan kepala desa yang baik?
Bagaimana perbedaannya dengan homonimi? Berikut perbedaan keduanya.
Table 10 Perbedaan Ambiguitas dan Homonim
|
Ambiguitas |
Homonimi |
|
bentuk dengan makna yang berbeda sebagai akibat dari berbedanya penafsiran struktural gramatikal bentuk |
dua bentuk yang sama dengan makna yang berbeda pula |
|
hanya terjadi pada satuan frase |
dapat terjadi pada semua satuan gramatikal (morfem, kata, frase, dan kalimat). |
Ullman membagi ambiguitas dalam 3 bentuk utama, yaitu ambiguitas tingkat fonetik, gramatikal dan leksikal (Pateda, 2010). Berikut penjelasan tiap jenis ambiguitas.
1) Ambiguitas fonetik
Pada bahasa lisan, ambiguitas dapat diakibatkan oleh struktur fonetik kalimat. Ambiguitas pada tingkat ini terjadi karena membaurnya bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan. Terkadang kita bisa saja salah menafsirkan makna suatu kata atau frase karena ketika bertutur frase atau kata itu terlalu cepat diucapkan.
Contoh ambiguitas fonetik:
Ia datang memberi tahu.
Kata tahu akan bermakna ambiguitas secara fonetik, jika tidak memahami konteks pembicaraan. Kata tahu bisa bermakna makanan yang terbuat dari kacang, atau bermakna informasi. Oleh sebab itu, penting untuk memahami cara mengucapkan suatu kata, sehingga tidak terjadi ambiguitas fonetik. Ambiguitas fonetik ini akan sangat sering terjadi dalam konteks tuturan, karena diucapkan, tidak dituliskan.
2) Ambiguitas gramatikal
Ambiguitas ini terjadi karena adanya perpaduan kata dengan kata yang lain. Ambiguitas gramatikal muncul ketika terjadinya proses pembentukan satuan kebahasaan baik dalam tataran morfologi, kata, frase, kalimat ataupun paragraf dan wacana Selain itu,
dapat juga terjadi karena proses idiom dan peribahasa. Ketaksaan gramatikal ini dapat dilihat dengan dua alternatif.
Pertama, ketaksaan yang disebabkan oleh peristiwa pembentukan kata secara gramatikal. Alternatif kedua adalah ketaksaan pada frase yang mirip. Setiap kata membentuk frase yang sebenarnya sudah jelas, tetapi kombinasinya mengakibatkan maknanya dapat diartikan lebih dari satu pengertian.
Berikut macam ambiguitas gramatikal berserta contohnya..
(a) Ambiguitas yang disebabkan oleh peristiwa pembentukan kata secara gramatikal.
Misalnya kata malas setelah mendapat awalan pe- berubah menjadi pemalas. Kata ini dapat berarti (orang) yang suka malas; yang bersifat malas.
(b) Ambiguitas pada frase.
Contoh, “orang tua” dalam bahasa Indonesia dapat bermakna 'orang yang sudah tua' atau 'orang tua kita yaitu ibu dan ayah. Untuk menghindari ambiguitas ini, kita harus menambahkan unsur penjelas seperti: orang tuaku atau orang tuanya untuk frase yang mengacu kepada ayah dan ibu. Sedangkan untuk makna yang kedua dapat ditambahkan kata “yang” maka menjadi orang yang sudah tua.
(c) Ambiguitas yang muncul dalam konteks.
Misalnya kalimat minor “keluar!” apakah maksud kalimat ini, orang dapat bertanya: keluar ke mana; dengan siapa keluar; pukul berapa keluar; atau perintah untuk keluar. Untuk menghindari ambiguitas pada konteks, orang harus mengetahui betul pada konteks apa seseorang berbicara.
3) Ambiguitas Leksikal
Ambiguitas leksikal ini terjadi pada kata di setiap bahasa terutama bahasa Indonesia yang memiliki makna lebih dari satu. Keambiguan jenis ini disebabkan oleh faktor kata itu sendiri. Contoh:
Anton berlari dengan sangat kencang ketika dikejar anjing. Anton lari dari kenyataan hidup.
Kata “lari” pada kedua kalimat di atas memiliki makna yang berbeda. Pada kalimat pertama, “lari” berarti aktivitas lari, sedangkan kalimat kedua “lari” berarti menjauh.
5.1.1.1 Penyebab Ambiguitas
Lalu, apa saja penyebab ambiguitas atau ketaksaan makna dalam kalimat bahasa Indonesia? Berikut adalah penyebab terjadinya ketaksaan-ketaksaan tersebut.
1) Kekurangan konteks, baik konteks kalimat maupun konteks situasi (dapat terjadi dalam bahasa lisan dan bahasa tulis)
2) Ketidakcermatan struktur gramatikal (dapat terjadi dalam bahasa lisan dan bahasa tulis) yang meliputi frase, klausa, kalimat, dan wacana. Selain itu ketaksaan juga dapat terjadi pada konstruksi yang struktur gramatikalnya berterima tetapi berbagai kendali semantik telah menimbulkan ketaksaan pada konstruksi itu.
3) Kekurangan tanda baca (hanya terjadi dalam bahasa tulis), karena ragam tulis tidak “mempunyai” intonasi yang diperlukan dalam bahasa lisan.
Ambiguitas (ketaksaan) merupakan elemen yang sangat penting di dalam suatu bahasa dan digunakan untuk berbagai keperluan oleh para pemakai bahasa. Sebagai contoh, ketaksaan yang digunakan oleh para pencipta karya sastra sebagai hiasan bahasa untuk menimbulkan efek keindahan. Selain itu, wacana humor dengan berbagai jenisnya juga memanfaatkan ketaksaan sedemikian rupa sehingga terjadi proses ambiguitas. Kekaburan makna dapat dihindari dengan memperhatikan penggunaan kata di dalam konteks atau ditentukan pula oleh situasi, sebab ada kata-kata khusus yang digunakan pada situasi tertentu.
5.1.1.2 Contoh Kajian Ambiguitas
Berikut contoh analisis ambiguitas yang dilakukan oleh Restiasih dengan judul Ketaksaan Makna Dalam Kajian Logika (Restiasih, 2013).
Terdapat sebuah tuturan, (1) Kapan emas kawinnya?
Tuturan (1) memiliki dua makna. Pertama, jika konteks tuturan tersebut dituturkan oleh seseorang, baik pria maupun wanita, yang bertanya kepada seorang pria, baik kakak kandung maupun yang dianggap sebagai kakaknya, akan bermakna pertanyaan tentang kapan kakaknya itu akan kawin (menikah). Kedua, jika konteks tuturan tersebut adalah berupa benda sebagai mahar perkawinan, frasa emas kawin memiliki makna sebuah benda yang akan dijadikan sebagai mahar dalam perkawinan yang akan diberikan oleh pengantin pria kepada pengantin wanita.
Dengan demikian, tuturan (1) secara logika bahasa ada kesalahan berupa penambahan fonem /\/ pada kata /\mas/. Penambahan fonem tersebut mengakibatkan ketaksaan makna.
Agar menjadi logis, penutur harus menuturkannya dengan tidak terlalu cepat, terutama pada bagian kata antara kapan dengan emas atau antara emas dan kawinnya
Jika yang dimaksud adalah mahar, antara kata kapan dan emas perlu diberi jeda sejenak sehingga menjadi tuturan yang berikut.
(1a) Kapan./ emas kawinnya?
Jika yang dimaksud adalah pertanyaan tentang waktu yang direncanakan untuk menikah, letak jeda harus digeser di antara emas dan kawinnya sehingga menjadi tuturan berikut.
(1b) Kapan mas / kawinnya?
Seperti pada (1), tuturan (2) berikut juga menimbulkan ketaksaan yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis.
(2) Itu bukan angka.
Tuturan (2) pada frasa bukan angka jika dituturkan secara cepat akan menjadi bukan nangka. Sama seperti pada (1), pada (2) juga terjadi kesalahan berupa penambahan fonem /n/ sebelum
/a÷ka/ sehingga menjadi /na÷ka/.
Tuturan (2) memiliki dua pengertian. Pertama, jika konteks tuturannya adalah seseorang yang sedang menunjuk pada nama buah, tuturan tersebut mengandung makna bahwa yang ditunjuk oleh seseorang itu bukan buah yang bernama nangka, melainkan buah lain.