9.1 Definisi Perubahan Makna

Pada sub bab ini akan disajikan faktor penyebab Setelah membaca bab ini, mahasiswa mampu memahami konsep perubahan makna dan menjelaskan sebab-sebab perubahan makna dan jenis-jenisnya. Kata dalam bahasa Indonesia mengalami perkembangan, pergeseran bahkan perubahan makna. Perubahan sosial seperti misalnya sebab karena peperangan, perpindahan penduduk, kemajuan teknologi dan iptek, ekonomi, budaya dan faktor lainnya menjadi


penyebab perubahan makna. Dalam kata yang mengalami perubahan makna, selalu ada hubungan (asosiasi) antara makna kata lama dan baru tanpa harus selalu melihat sebab perubahan itu terjadi. Tindak berbahasa adalah sebagai wujud dari perubahan makna. Namun, apakah makna itu berubah?

Seorang laki-laki menyapa teman perempuannya dengan sapaan kakak. Gurauan di antara mereka tercipta dengan tuturan “sejak kapan aku jadi kakakmu?”. Makna kakak dalam percakapan tersebut menjadi kunci dalam kajian perubahan makna. Lalu, apa makna yang terdapat pada kata kakak tersebut? mengapa ditanggapi berbeda oleh lawan tuturnya? Iya,


makna kakak menjadi meluas tidak hanya bermakna „sekandung‟, tetapi sekarang dapat menjadi sapaan kepada orang yang lebih tua, meskipun tidak sekandung.

Apabila dikaji pergeseran, perkembangan maupun perubahan makna tersebut dilatari oleh unsur penyebab tertentu. Beberapa diantara latar penyebab perubahan makna itu sebagai berikut.

1)      Akibat ciri dasar yang dimiliki oleh unsur internal bahasa

2)      Akibat adanya proses gramatik

3)      Sifat generik kata

4)      Akibat adanya spesifikasi ataupun spesialisasi

5)      Akibat unsur kesejarahan

6)      Faktor emotif

7)      Tabu bahasa (Aminuddin, 2011).

 

Definisi Perubahan Makna

Perubahan semantik, atau yang dikenal juga dengan istilah semantic shift, menjelaskan perubahan dari penggunaan kata, biasanya berkaitan dengan makna kata di jaman modern yang sangat berbeda dengan jaman dulu. Dalam linguistik diakronik, perubahan semantik merupakan perubahan salah satu makna dari sebuah kata. Setiap kata memiliki banyak senses dan konotasi yang dapat bertambah, berkurang, dan berubah setiap saat, bahkan biasanya sampai kepada tingkat dimana sebuah kata memiliki makna yang sangat berbeda dari waktu ke waktu.

Aristoteles telah mengungkapkan bahwa makna kata itu dapat dibedakan antara makna yang hadir dari kata itu sendiri secara otonom, serta makna yang hadir akibat terjadinya hubungan gramatikal (Ullman, 1972) dan (Aminudin, 2003). Perubahan makna merupakan hasil dari dinamika bahasa itu sendiri yang terjadi dalam ranah makna. Karena berbagai faktor makna kata dapat berubah atau bergeser dari makna sebelumnya.

Ada dua faktor yang menyebabkan perubahan makna, yaitu faktor linguistik dan non lingistik. Faktor linguistik berarti faktor dari dalam bahasa itu sendiri, yaitu; Proses Afiksasi, Reduplikasi, dan komposisi, sedangkan faktor nonlinguistik berarti faktor yang berasal dari luar bahasa tersebut, yaitu: perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, perkembangan sosial dan budaya, perbedaan bidang pemakaian dan lain-lain.


Terakhir diperbaharui: Monday, 26 May 2025, 10:58